BREAKING NEWS

Tersangka Kasus Korupsi yang Ditahan di Lapas Petobo, Moh. Asrar Samad Dibilang "Gak Tahu Rasa" — Pers Palu Ancam Laporkan Pidana Jika Tak Ada Maaf

Tersangka Kasus Korupsi yang Ditahan di Lapas Petobo, Moh. Asrar Samad Dibilang "Gak Tahu Rasa" — Pers Palu Ancam Laporkan Pidana Jika Tak Ada Maaf

Palu, Sulteng, RedaksiNews.co.id
Di Kota Palu, publik sedang menyaksikan satu pelajaran pahit: bahwa tidak semua orang yang meminta pertolongan benar-benar tahu cara menghargai bantuan. Nama Mohammad Asrar Abdul Samad — mantan Wakil Bupati Morowali Utara periode 2016–2020, Bupati Morowali Utara 2020–2021, dan kini tersangka kasus korupsi yang ditahan di Lapas Petobo — menjadi perbincangan, bukan semata karena persoalan hukum yang menyeretnya, tetapi juga karena dugaan sikap yang dinilai melukai kepercayaan orang-orang yang pernah berdiri membantunya.

Kalangan pers dan aktivis disebut pernah ikut membantu membuka informasi dan memperjuangkan berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan kepentingan hukumnya. Namun ironi muncul ketika bantuan itu dianggap selesai setelah kepentingannya terpenuhi. Tidak ada penghormatan yang layak, tidak ada sikap terbuka, bahkan meninggalkan kesan bahwa kepercayaan orang lain hanyalah alat sementara.

Padahal, mempermainkan kepercayaan pers bukan perkara kecil. Pers bekerja membawa informasi kepada publik, menjaga suara masyarakat tetap hidup, dan menjadi saksi atas setiap perilaku para pencari kekuasaan maupun mereka yang sedang tersandung hukum. 

Aktivis pun bergerak atas dasar idealisme dan keberanian moral untuk memperjuangkan nilai keadilan. Ketika kepercayaan mereka dipermainkan, yang dirusak bukan hanya hubungan personal, tetapi juga etika di hadapan masyarakat luas.
Orang yang tidak tahu berterima kasih biasanya juga tidak sadar kapan kehormatannya runtuh perlahan. Sebab rekam jejak sikap jauh lebih tajam daripada pidato tentang moralitas. Publik mungkin bisa lupa pada kata-kata, tetapi tidak pada cara seseorang memperlakukan orang lain ketika dirinya sedang membutuhkan pertolongan.

Sejumlah wartawan di Kota Palu bahkan disebut menyatakan kekecewaan atas perlakuan yang dianggap tidak menghargai kerja, bantuan, dan itikad baik yang pernah diberikan. Kekecewaan itu tidak hanya menjadi percakapan lokal, tetapi mulai mendapat perhatian dari kalangan pers dan aktivis yang lebih luas. Bagi banyak insan media dan pegiat sosial, kepercayaan adalah harga diri yang tidak pantas dipermainkan demi kepentingan pribadi sesaat.

Hari ini wartawan nasional, didukung sebagian kolega pers Kota Palu, menyatakan kekecewaan tajam atas kelakuan Mohammad Asrar Samad; memperlakukan dukungan media dan aktivis sebagai alat sementara adalah pengkhianatan moral yang menuntut klarifikasi publik, permintaan maaf resmi, dan bila perlu, konsekuensi hukum.

Masyarakat berhak bersikap kritis dan waspada agar kepercayaan publik tidak kembali dipakai untuk kepentingan pribadi yang pada akhirnya hanya meninggalkan kekecewaan, rasa dimanfaatkan, dan kerugian bagi orang-orang yang pernah memberikan dukungan dengan tulus.

Banyak pihak kini berharap agar peristiwa ini menjadi pelajaran moral yang besar, bukan hanya bagi Mohammad Asrar Samad, tetapi juga bagi siapa pun yang terbiasa memanfaatkan kerja dan loyalitas insan pers demi kepentingan pribadi. Sebab kepercayaan bukan barang murahan yang bisa dipinjam saat terdesak lalu dibuang ketika keadaan mulai aman.

Kalangan pers dan aktivis di Kota Palu menilai, sikap yang dianggap tidak menghargai perjuangan orang lain adalah bentuk kemunduran moral yang sulit diterima akal sehat. Nama baik tidak dibangun dari kepandaian berbicara, melainkan dari cara seseorang memperlakukan mereka yang pernah membantunya di masa sulit.

Kami mengecam keras tindakan yang terkesan mengkhianati kepercayaan publik dan berharap agar warga Manokwari Utara serta publik luas lebih waspada dan menilai rekam jejak kepemimpinan dengan cermat sebelum memberikan dukungan atau simpati.

Peringatan ini bukan untuk menyerang pribadi, tetapi untuk menjaga kepentingan publik dan mendorong akuntabilitas.

Moralitas tidak cukup hanya dikatakan; hukum harus bicara. Jika tidak ada klarifikasi publik dan permintaan maaf resmi dalam waktu yang wajar, korban akan segera menyampaikan laporan pidana dan mengajukan gugatan perdata — tanpa ragu, tanpa kompromi.

Mohammad Asrar Samad, yang kini berstatus tersangka dan ditahan di Lapas Petobo atas kasus korupsi, harus menyadari bahwa tindakan yang melukai kepercayaan publik dan mengkhianati itikad baik orang lain tidak bisa diselesaikan hanya dengan pernyataan singkat. Ada kewajiban moral untuk mengakui kesalahan, meminta maaf secara terbuka, dan memperbaiki hubungan yang telah rusak. Hanya penyesalan yang nyata, permintaan maaf publik, dan langkah perbaikan konkret yang akan menunjukkan bahwa ia menghormati kembali mereka yang pernah berdiri di belakangnya.

Hari ini semoga menjadi catatan penting bagi Kota Palu: bahwa keadilan tidak boleh hanya bicara soal vonis, tetapi juga soal tanggung jawab moral. Sebab seseorang yang terbiasa memakai jasa orang lain lalu membuangnya setelah selesai, sedang memperlihatkan wajah asli yang sulit disembunyikan oleh alasan apa pun.

Dan publik berhak menilai, apakah sosok seperti ini masih pantas meminta simpati, sementara kepercayaan yang pernah diberikan justru dibalas dengan kekecewaan.

Ttd,
Koalisi Pers dan Aktivis Kota Palu, Sulawesi Tengah
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image