BREAKING NEWS

Korban Tewas diduga Kram saat Menambang di Keranggan, Keluarga Minta Polemik dihentikan

Korban Tewas diduga Kram saat Menambang di Keranggan, Keluarga Minta Polemik dihentikan

BANGKA BARAT, RedaksiNews.Co.id
Seorang penambang timah jenis selam, Rasid, meninggal dunia diduga akibat kram saat melakukan penyelaman di perairan Laut Keranggan Minggu [28/6/2026].

Rasid diketahui warga Desa Teluklimau, Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat. Ia mengalami kram sekitar pukul 01.20 WIB ketika sedang menambang.

Tengah beredarnya berbagai versi berita, pihak keluarga akhirnya buka suara untuk meluruskan kesimpangsiuran.

Ponton Dibeli Sendiri, Tanpa Sepengetahuan Istri

Istri almarhum saat ditemui di kediamannya, Senin [30/6/2026], menegaskan ponton yang dipakai korban adalah milik pribadi.

“Ponton tersebut dibeli almarhum beberapa waktu sebelum kejadian. Tapi dibelinya tanpa sepengetahuan saya,” ungkapnya.

Ia menyebut, suaminya baru memberi tahu setelah transaksi selesai. “Almarhum baru kasih tahu kalau sudah beli ponton. Tapi tidak bilang berapa harganya dan ponton milik siapa sebelumnya,” sambungnya.

Nekat Bekerja Karena Terdesak Ekonomi

Soal alasan Rasid tetap bekerja di wilayah Keranggan padahal ada larangan dari pihak berwajib, sang istri menyebut faktor ekonomi.

“Menurut almarhum, dia sudah tidak punya uang lagi. Dia juga cerita mau cari uang untuk biaya narik pulang ponton ke Parit Tiga,” jelasnya.

Karena khawatir terjadi penindakan, istri korban sempat menanyakan apakah ada bekingan atau kordinasi dengan pihak lain.

“Sempat saya tanya, kenapa berani. Ada bekingan atau kordinasi nggak? Katanya tidak ada. Dirinya berserah sama Yang di Atas saja,” katanya.

Keluarga Minta Polemik Dihentikan

Istri Rasid berharap klarifikasi ini bisa menghentikan isu liar yang beredar. Ia tidak ingin musibah keluarganya diseret ke hal lain.

“Semoga apa yang saya sampaikan ini bisa menghentikan kesimpangsiuran. Saat ini kami sedang berduka. Saya harap semua pihak bisa memaklumi,” tegasnya.

“Saya tegaskan lagi, ponton itu milik kami sendiri. Dan suami saya bekerja tanpa kordinasi ke pihak manapun,” tandasnya.

Hal senada disampaikan kakak kandung korban, La Anto. Ia meminta agar kematian adiknya tidak dijadikan polemik atau bahan kepentingan pihak tertentu.

“Banyak berita beredar. Kami tidak ingin dimanfaatkan segelintir oknum untuk kepentingan pribadi. Dengan klarifikasi ini, kami mohon polemiknya disudahi,” ujar La Anto.

(Tim/red
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image