Proyek Pengendalian Banjir Walanae Cenranae Rp14,9 Miliar. LIRA Wajo Menyoroti Minta Transparansi dan Pengawasan Ketat
Proyek Pengendalian Banjir Walanae Cenranae Rp14,9 Miliar. LIRA Wajo Menyoroti Minta Transparansi dan Pengawasan Ketat
REDAKSINEWS.CO.ID_WAJO, LSM Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Kabupaten Wajo menyoroti proyek "Pembangunan Pengendalian Banjir Walanae - Cenranae Kabupaten Wajo" yang saat ini mulai dikerjakan. Proyek senilai Rp14.948.719.000 ini bersumber dari APBN 2026 melalui Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang, Kementerian PUPR. Berdasarkan papan proyek yang terpasang di lokasi, pekerjaan ini dilaksanakan oleh PT. SARJIS AGUNG INDRAJAYA dengan masa kontrak 180 hari kalender sejak 05 Juni 2026. Sementara pengawasan dilakukan oleh CV. MEUTHIA MULTI KONSULTAN.
LIRA Wajo menilai nilai proyek hampir Rp15 miliar adalah angka besar dan sangat dinanti masyarakat Wajo, khususnya warga di bantaran Sungai Walanae dan Cenranae yang setiap tahun terdampak banjir. Karena itu, kualitas dan ketepatan waktu pekerjaan menjadi harga mati. "Kami mengapresiasi pemerintah pusat yang menurunkan anggaran untuk pengendalian banjir di Wajo. Tapi sebesar apapun anggarannya, jika tidak diawasi maka rawan penyimpangan. Uang rakyat harus kembali ke rakyat dalam bentuk infrastruktur yang benar-benar berfungsi," ujar Abrar Mattalioe Bupati LSM LIRA Wajo, Minggu (19/7/2026).
Beberapa poin kritis yang menjadi perhatian LIRA Wajo adalah spesifikasi teknis dan volume pekerjaan harus sesuai kontrak dan dapat diakses publik. Selain itu keterlibatan tenaga kerja lokal harus diprioritaskan agar manfaat ekonomi proyek juga dirasakan masyarakat sekitar. LIRA Wajo juga menekankan bahwa konsultan supervisi harus benar-benar independen dan tidak hanya sebatas formalitas di atas kertas.
LIRA Wajo meminta BBWS Pompengan Jeneberang dan kontraktor pelaksana rutin memberikan update progres pekerjaan kepada publik. Keterbukaan informasi penting agar masyarakat bisa ikut mengawasi dan tidak muncul dugaan mark up atau pekerjaan asal jadi. Pengawasan bersama antara pemerintah, kontraktor, konsultan dan masyarakat akan meminimalisir potensi masalah di lapangan.
"Kami tidak menuduh. Kami hanya mengingatkan. 180 hari itu waktu singkat. Jangan sampai akhir tahun nanti proyeknya belum selesai atau hasilnya tidak sesuai harapan. Itu yang kami tidak mau," tegasnya. Abrar Mattalioe juga mendorong agar setiap tahapan pekerjaan, mulai dari galian, timbunan, hingga pemasangan material, dapat didokumentasikan dengan baik sebagai bentuk akuntabilitas.
Ke depan, LIRA Wajo akan melakukan pemantauan langsung ke lapangan secara berkala dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Lembaga ini juga mengajak masyarakat, tokoh pemuda dan mahasiswa untuk ikut mengawasi jalannya proyek agar sesuai dengan RAB dan spesifikasi teknis yang ditetapkan.
Kami berharap proyek ini menjadi solusi nyata pengendali banjir di Wajo, bukan sekadar proyek seremonial. Masyarakat Wajo berhak mendapatkan infrastruktur berkualitas dari uang pajaknya sendiri. "Mari kita kawal bersama. Karena ini uang negara, dan sasarannya adalah keselamatan serta kesejahteraan rakyat Wajo," tutupnya.(Tim).

