Gus Rozin Ajak Muktamirin Jaga Kegembiraan dan Persaudaraan di Muktamar NU ke-35
0 menit baca
JOMBANG, RedaksiNews.co.id
Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin mengingatkan seluruh muktamirin agar mengikuti setiap tahapan forum dengan suasana penuh kegembiraan dan persaudaraan.
Ketua PWNU Jawa Tengah tersebut menilai Muktamar tidak semata-mata menjadi ajang menentukan kepemimpinan organisasi. Lebih dari itu, forum tersebut merupakan kesempatan bagi warga NU dari berbagai wilayah untuk kembali bertemu, bersilaturahmi, dan memperkuat ukhuwah nahdliyah.
Gus Rozin berharap nuansa persaudaraan dapat tetap terjaga sejak peserta mulai berdatangan, selama persidangan berlangsung, hingga seluruh keputusan Muktamar ditetapkan.
“Muktamar ini harus menjadi bagian dari silaturahmi nahdliyin. Kita datang dengan riang gembira, bertemu saudara-saudara dari berbagai daerah, dan bersama-sama menjaga ukhuwah nahdliyah,” kata Gus Rozin.
Menurutnya, perbedaan pandangan maupun pilihan dalam sebuah forum organisasi merupakan sesuatu yang lumrah. Namun, perbedaan tersebut hendaknya tidak berkembang menjadi sekat yang merusak hubungan antarsesama warga NU.
“Boleh berbeda pilihan, tetapi jangan sampai berbeda dalam persaudaraan,” ujarnya.
Tidak Hanya soal Perebutan Kepemimpinan
Gus Rozin memandang Muktamar sebagai forum strategis yang memiliki cakupan lebih luas daripada sekadar memilih Ketua Umum PBNU. Pertemuan tersebut mempertemukan ulama, pengurus, kader, dan warga NU dari berbagai daerah dalam satu forum besar organisasi.
Karena itu, ia mengajak para peserta memanfaatkan momentum tersebut untuk bertukar pengalaman, menyerap berbagai aspirasi dari daerah, serta memperkuat rasa memiliki terhadap NU.
Ia juga mengingatkan agar dinamika pencalonan tidak membuat suasana Muktamar berubah menjadi penuh ketegangan. Menurutnya, proses musyawarah tetap dapat berlangsung serius tanpa harus menghilangkan kegembiraan sebagai bagian dari tradisi Nahdlatul Ulama.
“Jangan sampai Muktamar membuat kita kehilangan kegembiraan sebagai nahdliyin. Kita datang untuk bermusyawarah, bersilaturahmi, dan menentukan masa depan NU bersama-sama,” katanya.
Persatuan Harus Berlanjut Setelah Muktamar
Bagi Gus Rozin, menjaga persatuan tidak berhenti ketika proses pemilihan Ketua Umum PBNU selesai. Siapa pun yang nantinya memperoleh amanah, seluruh elemen NU tetap memiliki tanggung jawab untuk bersama-sama menjalankan khidmah organisasi.
Ia berharap energi yang muncul selama Muktamar setelahnya dapat diarahkan untuk memperkuat pelayanan kepada jamaah, mengembangkan pesantren dan organisasi di daerah, serta memperluas manfaat NU bagi masyarakat.
“Siapa pun yang nantinya mendapatkan amanah sebagai Ketua PBNU, saya berharap seluruh elemen NU tetap dapat bersama-sama menjaga persatuan, memperkuat ukhuwah, dan melanjutkan khidmah kepada umat,” tuturnya.
Ajakan tersebut sejalan dengan gagasan ishlah yang dibawa Gus Rozin dalam pencalonannya. Ia menyebut Muktamar dapat menjadi ruang untuk mengevaluasi hal-hal yang masih perlu dibenahi, mempertahankan berbagai capaian yang telah berjalan baik, sekaligus mempererat kembali hubungan di antara berbagai unsur dalam tubuh NU.
Dengan semangat tersebut, ia berharap tidak ada sekat berkepanjangan antara pihak yang nantinya mendapatkan mandat dan mereka yang belum memperoleh amanah.
Menurut Gus Rozin, hasil terbaik dari Muktamar bukan hanya ditentukan oleh siapa yang terpilih, melainkan oleh seberapa kuat persatuan NU setelah seluruh rangkaian forum berakhir.
“Yang kita cari bukan sekadar siapa yang menang, tetapi bagaimana setelah Muktamar NU semakin kuat, semakin rukun, dan semakin bermanfaat bagi umat, bangsa, negara dan masyarakat global,” pungkasnya.****
